Sabtu, 17 Januari 2009

Proyek Uji Coba Penanaman Padi SRI di Rumah Kompos

BUDIDAYA PADI METODA SRI

SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan oleh Fr. Henri de Laulanie pada tahun 1984 di Pulau Madagaskar. dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa.

Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi.

Prinsip dasar budidaya padi organik SRI terdiri dari beberapa kegiatan kunci dan prosesnya mutlak harus dilakukan agar hasil yang dicapai petani optimal.

1. Proses Pembibitan.

2. Proses Pengolahan Lahan.

3. Proses Penanaman Bibit Padi.

4. Proses Pemeliharaan.

5. Proses Pemupukan.

6. Proses Pengendalian Hama.



Semenjak kira-kira 3 minggu lalu, anak-anak workshop bekerja keras mencampurkan tanah dan kompos dengan sekop melalui hasil keringat sendiri. Lelah-lelah mengaduk tanah dan kompos agar bercampur merata jadi satu. Lalu lelah juga saat memasukkan campuran tanah&kompos tersebut ke dalam polybag satu per satu. Akhirnya 88 polybag sudah terisi tanah beserta kompos penuh. Persiapanpun bres dan siap ditanami padi. Semaian padi dalam besek siap dipindahkan ke dalam 88 polybag karena sudah berumur sekitar 10 hari. Kamipun memindahkan semaian padi ke 88polybag. Dan sudah sekitar 3 kali kami anak-anak workshop melakukan kontrolling terhadap kondisi lingkungan serta kondisi padi SRI yang kita uji coba sebagai sarana utk membantu PM DEWI SRI Ciparay dalam menunjang percobaan dan pembelajaran bagi kami panitia PM Ciparay. Tiap 1 minggu sekali kita ke sana, mengecek beberapa hal seperti jumlah cabangnya, tinggi, kondisi tanah, polybag, menyiraminya dan memberi MOL ke tiap polybag. Agar mempermudah kontrolling kami melabelkan tiap 4 padi menjadi 1 group penilaian. (baik tinggi, jumlah cabang dan kondisi-kondisi lainnya) Uji coba ini akan menguji apakah benar padi dapat tumbuh di media aneh "polybag",(bukan padi yang ditanah lapang yang kebanyakan direndam air) dan mampu tumbuh subur dengan MOL (bukan pupuk kimia) serta mampu menghasilkan hasil yang memuaskan. Doakan proses uji coba kami agar sukses dan menghasilkan analisa serta pembelajaran yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar