Sabtu, 07 November 2009

Pengolahan Sampah di ITB

Pengolahan Sampah di ITB (Dibuat Oleh Hendra dan Edwin TK 08)
Dalam rangka program magang di Workshop, PJ proker Ganesha Hijau
Tugas Minggu ke 2


Berikut ini adalah pokok-pokok hasil survey kami (Hendra dan Edwin TK 08) di lokasi pengolahan sampah ITB.
1. Pembagian Tempat Sampah
Pembagian tempat sampah di ITB dibagi menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sejauh ini pembagian tempat sampah tersebut sudah cukup efektif. Hanya saja, karyawannya yang kadang justru mencampur sampah yang sudah terpisahkan tersebut. Kesadaran warga kampus sebenarnya sudah cukup tinggi.
Sebenarnya akan lebih efekfif lagi jika dibagi menjadi 3, yaitu plastik dan botol, daun, dan organik. Dengan demikian, diharapkan pengolahan sampah dapat menjadi lebih efektif. Sebelum diolah, sampah tersebut diangkut dari kampus, sabuga, saraga dan rw sekitar ITB menuju lokasi pengolahan sampah dengan pick-up. Pengambilan sampah tersebut dilakukan setiap harinya, jam 08.00, 11.00, 13.00. Biasanya sampah yang masuk berkisar antara 20-22 kubik perhari.


Pada intinya, kebanyakan sampah anorganik cenderung dibakar daripada bi olah kembali karena sulit untuk dilakukan dan keterbatasan tenaga kerja. Keuntungan dari pengolahan sampah ini sendiri tidak begitu terasa, karena sangat kecil. Pada dasarnya pengolahan sampah ini hanya ditujukan untuk membersihkan wilayah kampus ITB dan sekitarnya.

2. Proses Komposting

Produk komposnya diberi nama Kompos Ganesha. Kapasitas produksi kompos ini adalah 0,5-1 ton/hari. Komposisi produk komposnya adalah sebagai berikut :
• Sampah organik (daun, rumput, sampah kantin)
• Mikroorganisme
• Dedak 1 %
• Nutrisi 0,1 %
Penggunaan kompos ini secara umum dalam perbandingan 1 : 4 dengan tanah. Kompos ini dijual dengan harga 2800/karung plastik atau 350 rupiah per kilogram. Hasil kompos ini biasanya dijual ke masyarakat, toko bunga, dinas pertamanan, dan pertanian.
Catatan :
• Penghancuran daun dilakukan dengan penggilingan.
• Kompusting dilakukan dengan penumpukan sambil disiram air, dan setiap hari tumpukan tersebut harus dibolak-balik.
• Indicator keberhasilan composting ini adalah terasa panas ketika dibolak-balik (pada dasarnya, sama dengan prinsip takakura).
Sejak sampah masuk, penggilingan, sampai proses composting selesai memakan waktu ± 40 hari. Komposting di ITB juga didukung oleh factor-faktor sebagai berikut :
• Mikroba, yaitu simbal yang diperoleh dari Pak Nyoman, dosen SITH.
• NPK dan Zeolit, hanya ditambahkan jika ada permintaan dari konsumen.
• Dedak (sisa padi), diperoleh dari sisa pertanian

3. Insinerator
Pada dasarnya incinerator digunakan untuk mengolah sampah-sampah yang tidak diolah kembali (sampah anorganik). Insenerator dioperasikan pada suhu ± 800o C. Sebelum dioperasikan mula-mula incinerator dipanaskan dengan bahan bakar diesel (solar). Setelah cukup panas, pemanasan dilanjutkan dengan memanfaatkan angin dari blower (sejenis kipas yang digerakkan dengan energy listrik).
Baru-baru ini incinerator ITB yang lama mengalami sedikit kerusakan. Akibatnya, terpaksa dibeli incinerator yang baru dengan dana dari pemerintah. Harga incinerator yang baru ini 370juta rupiah. Sementara ini incinerator yang lama masih dipakai sambil diperbaiki, sedangkan incinerator yang baru dalam tahap pemasangan. Menjelang selesainya pemasangan incinerator baru, incinerator yang lama masih tetap dipakai. Jadi beberapa saat lagi ITB akan memiliki dua incinerator, walaupun incinetator yang lama kerjanya sudah tidak begitu optimum. Berdasarkan hasil wawancara, incinerator yang baru akan mulai dioperasikan sekitar pertengahan Desember nanti.
4. Kendala-kendala yang Dihadapi
• Pengolahan Styrofoam sangat sulit dan berbahaya untuk dilakukan. Karena pembakaran styrofoan baru akan sempurna pada suhu yang relative tinggi. Padahal suhu yang tinggi itu sulit dicapai.
• Bahan-bahan kimia bekas praktikum dan B3 sulit diolah dan berbahaya jika tidak sengaja terbakar dalam incinerator. Bahaya-bahaya yang sudah pernah dialami oleh pihak pengolahan sampah adalah sebagai berikut :
o Luka dimata
o Kulit gatal-gatal
o Akumulasi zat kimia dalam tubuh
o Alergi
Bahan kimia ini sering ditemukan di depan gedung biologi dan di laboratorium fisika bagian atas.


5. Kesimpulan dan Saran
• Kesimpulan
i. Proses composting sejauh ini sudah baik
ii. Pemisahan sampah sudah berjalan dengan baik
iii. Kinerja incinerator diprediksi akan optimum setelah instalasi incinerator baru telah selesai.
iv. Masih ada beberapa kendala serius yang perlu diperhatikan.
• Saran
i. Kalau ada acara diusahakan untuk tidak menggunakan Styrofoam sebagai wadah makanan. Lebih baik menggunakan wadah yang reuseable, seperti piring, gelas, dll.
ii. Bahan-bahan kimia (B3) dan alat-alat praktikum yang pecah sebaiknya dibuang ke satu tempat yang terpisah dari sampah-sampah pada umumnya. Setelah cukup banyak, dikemas rapi dan selanjutanya baru akan diangkut oleh unit pengolahan sampah ITB untuk diolah lebih lanjut seperti ditimbun misalnya (yang jelas tidak dibakar). Dengan demikian sampah-sampah yang berbahaya ini tidak akan terbakar sehingga tidak menimbulkan bahaya.




Mohon saran2nya demi kemajuan pengetahuan dan kinerja dari TK 2008.
Semoga hasil makalah ini memberikan gambaran secara umum pengolahan sampah di ITB (Rumah Kompos ITB) yang semakin mendukung Ganesha Hijau dalam mewujudkan ITB ECO CAMPUS 2012
Data-data dan fakta-fakta dari hasil kerja magangers WS akan diberikan ke forum GH pada pertemuan berikutnya dalam rangka menetapi janji HIMATEK yang akan suplai info2 pengolahan sampah di ITB bagaimana kondisinya...

Maaf jika banyak kekurangan
Saran dan kritik akan dibuka selebar mungkin, jadi kritiklah yg membangun demi adik2 kita TK 2008
Terimakasih

HIMATEK dukung ITB ECO CAMPUS

Ivan H

1 komentar:

  1. kk izin pake buat bahan presentasi di kelas boleh?

    BalasHapus