Senin, 18 Juli 2011

Majari Magazine

Salam kenal,
saya Ivan Hadinata Rimbualam, ingin memperkenalkan:

"Majalah Online, No.1 Portal for Indonesian Chemical Engineering Students, Majari Magazine", Majalah hasil karya Alumni Teknik Kimia ITB semenjak 15 Oktober 2007.

Silahkan membaca-baca jika tertarik membaca karya kami dan memberikan komentar pada artikel-artikel kami di: http://majarimagazine.com/

Semoga dapat berguna bagi perkembangan bangsa Indonesia :)

Jumat, 15 Juli 2011

Terima kasih HIMATEK ITB dan YLI

Terima kasih banyak akan 2 organisasi tempat saya bernaung di saat saya menjadi mahasiswa di ITB, yaitu HIMATEK ITB dan YLI. Saya bertaruh banyak pengalaman dan ilmu dari dua organisasi ini. Thanks a lot ! :)

Selasa, 12 Juli 2011

Tips & Tricks on CV Writing

Anda tahu mengapa banyak sekali orang gagal dalam menulis CV? Apa yang membedakan CV yang baik dan CV yang sedang-sedang saja, atau bahkan CV yang buruk? Mungkin tips & tricks dalam penulisan CV, yang saya peroleh dari pengalaman saya, dapat mencerahkan kalian semua. Anda dapat membaca tulisan saya di: http://majarimagazine.com/2011/07/tips-tricks-on-cv-writing/

Semoga berguna bagi peningkatan kualitas Anda dalam membuat CV terbaik Anda. Sukses selalu!

Salam,

Ivan Hadinata Rimbualam

Kamis, 07 Juli 2011

Loyalitas Menjadi Kekuatan Tersendiri

Bagi saya kata kesetiaan/ loyalitas terhadap suatu organisasi/kepanitiaan merupakan salah satu ciri/karakter orang sukses dan menjadi kekuatan tersendiri dari sifat seseorang. Saya merasakan penuh manfaat dar sifat loyalitas saya kepada organisasi HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) ITB dan YLI (Young Leaders for Indonesia), serta kepanitiaan tahunan yang profesional yaitu LRPTN (Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional). Kesetiaan tsb memberikan saya pengetahuan cukup lengkap dari A-Z mengenai lembaga yang saya tekuni, saya pedulikan, dan saya kembangkan agar menjadi lembaga yang lebih baik lagi ke depannya dan semakin berkontribusi tentunya.

Kesetiaan itu tentunya harus dibayar mahal pula oleh berbagai hal lainnya, namun saya tidak akan menyesal dengan mengerahkan semangat/spirit, waktu, tenaga, uang, dan pikiran saya untuk lembaga yang saya fokuskan.

Terima kasih banyak telah menempa saya =)

Selasa, 05 Juli 2011

Underground Coal Gasification (UCG), Teknologi Alternatif Pengolahan Batubara

Underground Coal Gasification (UCG) merupakan teknologi alternatif yang digunakan untuk mengolah batubara sebagai salah satu sumber energi di dunia. UCG memiliki beberapa kelebihan, yaitu berpotensi menjadi teknologi gasifikasi batubara yang lebih bersih.

Saya memaparkan penjelasan umum mengenai teknologi alternatif UCG ini di http://majarimagazine.com/2011/06/underground-coal-gasification-ucg-teknologi-alternatif-pengolahan-batubara/. Semoga artikel yang saya tulis di Majari berguna bagi kalian semuanya.

Terima kasih banyak

Salam,
Ivan

6 Pekerjaan Terfavorit Seorang Sarjana Teknik Kimia di Indonesia

Setelah seorang mahasiswa Teknik Kimia lulus dan mendapat gelarnya, yaitu S. T, apa sih pekerjaan terfavorit mereka di dunia kerja? Saya telah memaparkan trend 6 pekerjaan terfavorit sebagai seorang sarjana Teknik Kimia saat ini di situs majalah online Majari http://majarimagazine.com/2011/06/6-pekerjaan-terfavorit-seorang-sarjana-teknik-kimia/. Semoga berguna dan dapat mencerahkan pemikiran Anda sebagai para lulusan Teknik Kimia Indonesia.



Minggu, 03 Juli 2011

Apa Arti Semangat?

Dalam hidup ini, saya mungkin telah banyak mengalami kepahitan pula di balik segala kemanisan dan kesuksesan perjalanan hidup saya. Rasa dihina, rasa diejek, perasaan sangat direndahkan karena ekonomi keluarga tidak sebaik itu pula sering dirasakan sejak kecil dan sejak saya belum bisa apa-apa. Lalu apa arti semangat itu bagi saya?

Semangat adalah sekumpulan bola energi yang terus menyuplai jiwa dan raga saya setiap detiknya untuk terus berjuang dengan keras dalam rangka menginspirasi banyak orang lewat segala karya saya di muka bumi ini. Tujuan saya adalah menginspirasi di setiap karya dan perjalanan hidup saya..

Amin.

Rabu, 08 Juni 2011

3E For A Best Leader

Melalui pengalaman saya dalam memimpin keorganisasian kemahasiswaan kampus dan tim-tim berbagai projek dengan perusahaan besar, saya memperoleh pembelajaran luar biasa. Salah satu pelajaran yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah 3E, yang saya namakan 3E For A Best Leader. Seorang pemimpin haruslah memiliki karakter 3E ini agar bisa menjadi pemimpin yang sukses dan dihormati. 3E itu adalah Energy, Energize, and Empowering. Mudah kan ya? Menarik pula kan? Yap!

Lalu, Apa itu energy? Energy adalah semangat membara dari seorang pemimpin. Pemimpin yang handal harus mampu mempunyai yang saya namakan bola energi dengan passion penuh akan suatu target atau pencapaian tertentu. Passionnya pasti kuat dan kokoh, tak mudah tergoyahkan. Dia punya 10 x energi lebih besar dari pemimpin lainnya dan punya semangat 10x lebih besar daripada anggota atau teman sepantaran. Dia punya semangat juang dan endurance yang sangat tangguh dan energic dalam mengerjakan semua hal yang menuju passionnya.

Selanjutnya, Energize. Pemimpin handal harus mampu menularkan energinya ke orang di sampingnya, orang yang sangat semangat tsb harus mampu mengajak teman-teman timnya menjadi semangat dan memiliki passion yg kuat pula. Dia harus mampu memberikan suntikan bola energi passion ke tim kerjanya dan memotivasi tim. Ketika tim gagal, dia harus jadi motivator ulung dan pemberi semangat kebangkitan dan membuat timnya hidup dan bangkit kembali. Energize people!

Terakhir, empowering. Pemimpin handal harus mampu men-sharekan power nya dan harus mampu membagikan pekerjaan orang-orang di dalam timnya dengan tepat sasaran. Dia harus mampu memilih the best teamnya dan mengelolanya dengan kekuatan empowering yg unggul. Mampu mendorong orang bekerja dan memiliki motivasi kerja yg tinggi adalah hal sulit dalam upaya empowering people. Dia harus mampu memberikan dorongan agar orang lain mau mengerjakan tugas demi anda, mampu mendorong orang lain mencapai tujuan visi misi perusahaan, dan lain sebagainya.

That are the quality of a best leader. Cobalah dipraktekkan yap ! Semangat dalam belajar dan berjuang! :)

Reaksi Sekunder Pirolisis Batubara

Pirolisis batubara secara umum merupakan dekomposisi termal dari batubara tanpa keberadaan udara atau komponen tambahan lainnya (Speight, 1994). Proses pirolisis umumnya terjadi pada rentang temperatur 300-700 oC (Sasongko, 2011). Pemanasan yang terjadi pada proses pirolisis menghasilkan produk berupa gas, cairan, tar, dan arang (Speight, 1994). Gas yang dihasilkan berupa gas yang mudah terbakar (H2 dan hidrokarbon ringan), gas yang tidak terbakar (CO2 dan air), dan berbagai gas lainnya, yaitu NH3, H2S, dll (Sasongko, 2011). Pirolisis secara sederhana berarti proses peningkatan kualitas bahan bakar dari batubara. Pirolisis batubara merupakan proses pemanasan batubara seperti di dalam oven yang melibatkan dua macam reaksi (Kabe, 2004).

Pirolisis batubara memiliki hal yang menarik dalam hal tingkat perolehan cairan tar yang relatif tinggi. Hal menarik lainnya muncul pada laju pemanasan batubara. Laju pemanasan batubara yang tinggi akan membatasi tingkat berlangsungnya reaksi sekunder pada pirolisis batubara. Transfer massa yang lambat menyebabkan peningkatan lama reaksi sekunder berlangsung. Hal tersebut berakibat pada perolehan gas yang semakin meningkat, perolehan tar yang menurun. (Gavalas, 1982).

Ketika batubara dipanaskan, tar primer diproduksi melalui pirolisis batubara pertama / pirolisis primer. Saat temperatur semakin meningkat, tar primer harus melalui sebuah zona yang bertemperatur tinggi dan proses pirolisis sekunder pada tar terjadi. Pada proses ini, pengembangan metode untuk memperkirakan perolehan produk dan komposisi dari tar diperlukan untuk menentukan perolehan produknya akan lebih digunakan menjadi sumber energi atau bahan kimia (Kabe, 2004).

Reaksi pirolisis merupakan reaksi yang kompleks, secara umum melibatkan proses pemutusan ikatan (bond breaking), penguapan (vaporization), dan kondensasi atau cross-linking, yang mengakibatkan perubahan pada densitas grup alifatik dan aromatik.

Penelitan akan pirolisis batubara yang dilakukan John F. Stubington dan Sumaryono menjelaskan bahwa pada pirolisis batubara terjadi 2 proses, yaitu (Stubington, 1983):
(1) Reaksi kompetitif antara hidrogen dan oksigen pada batubara
(2) Reaksi sekunder pada komponen volatil yang reaktif di dalam partikel batubara

Jianglong Yu memisah pirolisis menjadi 3 bagian, bagian coal / metaplast, pirolisis primer, dan pirolisis sekuder. Pada pirolsis pertama terlihat bahwa terbentuk tar, arang, dan gas primer. Tar dikonversi menjadi jelaga (soot) dan gas sekunder pada pirolisis sekunder. Gas primer ada sebagian menjadi gas sekunder dan jelaga pula, sedangkan arang sebagian menjadi gas sekunder(Yu, 2006).

Pada bagian I, batubara mengalami proses reduksi pada ikatan hidrogen dan cukup untuk memutus ikatan kimia yang lemah. Proses ini terjadi untuk melembutkan bentuk batubara dan membentuk komponen cairan, yang dikenal dengan metaplast. Pada tahap ini, terjadi kompetisi antara pemutusan ikatan dengan penstabilan ikatan. Ikatan yang terstabilkan merupakan pembentukan arang mula-mula. Sejumlah gas ringan terlepas pada tahap 1 ini, yang disebut gas primer. (Smith, 1994).

Pada bagian II, terjadi pemutusan ikatan berlanjut sehingga menambah produk gas ringan dan komponen bermassa molekul rendah dalam tahap metaplast berubah menjadi tar. Komponen yang bermassa molekul tinggi pada metaplast akhirnya membentuk arang dengan reaksi cross linking. Pembentukan gas berhubungan dengan gugus fungsi yang berada pada batubara, sehingga batubara yang memiliki gugus fungsi yang berbeda akan mengalami proses pirolisis yang berbeda pula. Pembentukan tar merupakan kombinasi antara proses depolimerisasi dan vaporization (Smith, 1994).

Pada bagian III, sebagian arang berubah menjadi karbon monoksida dan hidrogen . Sementara tar meneruskan reaksinya membentuk jelaga dan gas sekunder. (Smith, 1994).

Reaksi sekunder pada tar mengakibatkan proses seperti crosslinking dan dekomposisi pada tar. Crosslinking akan menghasilkan arang sekunder, berupa jelaga (soot), sedangkan dekomposisi tar akan menghasilkan gas sekunder.

Menurut penelitian John F. Stubington and Sumaryono Reaksi sekunder akan membuat molekul hidrokarbon yang besar seperti tar mengalami pemecahan menjadi molekul hidrokarbon yang lebih kecil, dan hidrogen terproduksi. Hal ini yang akan membentuk gas sekunder. Reaksi sekunder dikatakan juga membuat sejumlah karbon terbentuk dari komponen volatil yang terdeposit pada dinding pori-pori. Hal ini yang disebut jelaga (Stubington, 1983).

Ukuran partikel batubara memberikan pengaruh pada perolehan total dari volatile matter. Ukuran partikel yang lebih besar akan berpengaruh pada reaksi sekunder dengan meningkatkan perolehan dari gas ringan dan menurunkan perolehan tar (Yu, 2006).

Reaksi sekunder pada gas berlangsung dengan proses reaksi antara arang primer dan gas primer membentuk gas sekunder, dengan reaksi sebagai berikut:

C + CO2 <> 2 CO
C + H2O <> CO + H2
C + 2 H2 <>CH4
2 C + 2 H2 <> C2H4
C + 2 NH3 <> HCN + H2

Kelanjutan dari reaksi sekunder ditentukan oleh temperatur dan waktu tinggal dari komponen volatil dalam pori-pori batubara. Waktu tinggal akan meningkat dengan peningkatan ukuran partikel dan menurun sesuai dengan peningkatan ukuran pori; karena pada pori yang besar transfer massa dari partikel batubara lebih cepat (Stubington, 1983).

Seiring dengan peningkatan temperatur, proses reaksi sekunder akan semakin berlanjut (khususnya reaksi cracking) menyebabkan perolehan maksimum hidrokarbon yang lebih tinggi (seperti tar, propana, propilen) dan perolehan metana serta etilen meningkat pula. Seiring dengan meningkatnya ukuran partikel, waktu tinggal komponen volatil akan meningkat di dalam partikel batubara menyebabkan reaksi sekunder dapat berlangsung semakin lama. Hal ini berdampak pada perolehan arang yang meningkat pesat, dengan mengobarkan perolehan gas dan tar (Stubington, 1983).


Daftar Pustaka
  1. Gavalas, G.R. 1982. Coal Pyrolysis, Coal Science and Technology 4. Elsevier: Amsterdam.
  2. Kabe T., dkk. 2004. Coal and Coal-Related Compounds. Elsevier.
  3. Sasongko, Dwiwahju. 2011. Diktat Kuliah TK5008, Dasar-dasar Pemanfaatan & Pengolahan Batubara Teknik Kimia ITB. Bandung.
  4. Smith, K. Lee, dkk. 1994. The Structure and Reaction Processes of Coal. Plenum Press: New York.
  5. Speight, James G. 1994. The Chemistry and Technology of Coal. Marcel Dekker, Inc.: New York.
  6. Stubington, John F.; Sumaryono. Release of volatiles from large coal particles in a hot fluidized bed. Buttenvorth & Co., 1983.
  7. Yu, Jianglong; Lucas, John A.; Wall, Terry F. Formation of the structure of chars during devolatilization of pulverized coal and its thermoproperties: A review. Elsevier, 2006.
Penulis: Ivan Hadinata Rimbualam (@Ivanhadinata)