Kamis, 29 Oktober 2009

Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional 2010

Industri kimia adalah salah satu industri yang berpotensi menjadi ujung tombak pencipta kemandirian dan daya saing perekonomian nasional. Dengan memiliki kemandirian, Indonesia dapat memperkecil ketergantungan strategis terhadap kekuatan luar, dan dengan memiliki daya saing perekonomian nasional, Indonesia dapat memiliki keunggulan komparatif dalam kancah globalisasi.

Dalam era otonomi daerah, pengembangan industri kimia nasional tersebut harus dilakukan secara bersamaan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui keterpaduan penerapan kebijakan di masing-masing daerah. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki potensi sumber daya yang khas sehingga pengelolaannya memerlukan pendekatan yang khusus sesuai kearifan lokal daerah.

Dengan pendekatan pengembangan berbasiskan kedaerahan tersebut, diharapkan bahwa: (1) Seluruh potensi sumber daya Indonesia yang terlokalisasi pada daerah tertentu dapat digunakan secara maksimal demi kemajuan bangsa; (2) Setiap daerah mampu memenuhi kebutuhan daerahya secara mandiri dan dapat membantu pemenuhan kebutuhan daerah lainnya; (3) Setiap daerah memiliki industri yang unggul sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan daerah, terutama di luar Jawa; (4) Industri kimia menjadi lebih efisien sehingga meningkatkan kontribusinya bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, ajang Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional XI (LRPTN XI) ini diadakan sebagai momentum awal bagi kalangan akademisi dan praktisi untuk mencurahkan ide dan pemikirannya dalam mengembangkan sebuah pabrik kimia yang berbasiskan sumber daya daerah. Ide dan pemikiran tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan industri kimia yang mampu mendorong kemandirian dan daya saing perekonomian nasional.

Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional (LRPTN) merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan pertama kali pada tahun 1996 dan akan diselenggarakan untuk yang ke-sebelas kalinya pada tahun 2010. Kegiatan ini menawarkan kesempatan bagi setiap mahasiswa tingkat sarjana dan diploma, khususnya program studi teknik kimia, untuk berkompetisi satu sama lain dalam mengaplikasikan ilmu dan ide melalui sebuah rancangan pabrik.

ACARA LRPTN

1. Workshop Keprofesian

Workshop keprofesian adalah awal dari rangkaian acara LRPTN XI. Beragamnya ilmu teknik kimia yang dapat diaplikasikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan daerah masih belum banyak diketahui masyarakat luas. Workshop keprofesian akan menjadi ajang pelatihan dan perkenalan ilmu teknik kimia bagi siswa SMA se-Bandung dan mahasiswa ITB dari jurusan lain, serta menjadi ajang pertukaran informasi bagi mahasiswa Teknik Kimia dari Universitas lain se-Bandung yang akan menjadi peserta. Workshop keprofesian akan dikemas dalam suatu acra expo yang apik dan dilangsungkan pada tanggal 27 April 2010 di Lapangan Campus Center Barat ITB.

2. Gala Dinner

Kerjasama yang baik antara panitia dari pihak ITB dan finalis dari berbagai perguruan tinggi adalah salah satu hal penting yang perlu untuk dijalin dan ditingkatkan sebelum, selama, dan setelah ajag LRPTN XI. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Gala Dinner diharapkan dapat menjadi acara yang akan mendekatkan peserta dan panitia. Jamuan makan malam yang diselingi oleh talkshow keprofesian dan hiburan ini akan dilangsungkan pada tanggal 27 April 2010.

3. Field Trip

Kedatangan para finalis LRPTN XI adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi panitia dari pihak ITB. Tidaklah dirasa cukup penyambutan dilakukan terbatas secara formal dan tanpa kesan yang berarti. Field Trip dilakukan untuk menyambut para finalis yang telah memberikan usaha terbaiknya selama persiapan LRPTN XI dengan membawa menuju berbagai kawasan wisata di sekitar Bandung. Field trip akan dilangsungkan pada tanggal 27 April 2010 untuk para finalis dan para dosen pembimbing.

4. LRPTN XI

Acara utama LRPTN XI adalah presentasi Rancang Pabrik oleh para finalis dan penilaian dari juri. Diselingi dengan keynote speech yang akan membuka wawasan mengenai pengembangan industri daerah, ada lebih dari sekedar presentasi pada klimaks rangkaian acara LRPTN XI. Keynote speaker yang akan hadir antara lain:

(1) Dr. Tatang Hernas S (Dosen Program Studi Teknik Kimia ITB) “Peranan Institusi Pendidikan dalam Pemenuahan Kebutuhan Daerah”

(2) Hatta Rajasa (Menteri Sekretaris Negara) “Arahan Pemerintah dalam bidang pemenuhan kebutuhan daerah dan realita yang terjadi di lapangan”

(3) Tri Haryo Susilo (PT Rekayasa Industri) “Peranan Strategis Kalangan Industri dalam mendukung pemenuhan kebutuhan daerah)”

Materi Lomba :

Kategori A: Pengembangan Industri Kimia Berbasiskan Potensi Sumber Daya Hayati Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan

Potensi kekayaan dan keanekaragaman sumber daya hayati Indonesia sangatlah besar sehingga Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversity. Hutan Indonesia yang luasnya mencapai 120,35 juta hektar merupakan hutan tropis kedua terluas di dunia setelah Brazil. Hutan tersebut merupakan sumber pendapatan negara potensial, dengan nilai US$ 6,6 miliar di tahun 2003 atau 13,7% pendapatan ekspor non migas. Selain itu, dari luas daratan Indonesia yang berkisar 190 juta hektar, sekitar 64 – 69 juta dapat dan sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Lahan sawah berjumlah 7,7 juta hektar, sisanya tegalan 10,6 juta hektar, perkebunan (rakyat dan swasta) 19,6 juta hektar, kayu-kayuan 9,4 juta hektar, dan 12,4 juta hektar masih berupa semak belukar atau alang-alang.

Akan tetapi, kendati kekayaan sumber daya hayati tersebut sudah banyak dieksploitasi dalam bidang pertanian, perkebunan, dan kehutanan, sesungguhnya masih banyak potensi yang belum digali dari kekayaan sumber daya hayati yang dihasilkan ketiga bidang tersebut. Nilai tambah sumber daya hayati yang dihasilkan masih relatif kecil akibat kapasitas IPTEK dalam pengolahannya masih sangat rendah. Padahal, sumber-sumber daya hayati tersebut potensial untuk dijadikan bahan baku industri kimia yang bernilai tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas IPTEK melalui pengembangan pabrik kimia sangatlah diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan.

Contoh-contoh potensi pengembangan industri kimia berbasiskan sumber daya hayati:

- Indonesia masih merupakan negara pengimpor coklat sebagai produk makanan dari komoditi kakao. Padahal Indonesia memiliki sumber daya kakao yang berlimpah, seperti terdapat di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan yang merupakan provinsi penghasil kakao terbesar. Secara keseluruhan, luas area tanam kakao Indonesia mencapai 1,56 juta hektare dan mampu menghasilkan buah kakao sebanyak 795 ribu ton pada 2008, lebih dari seperlima kebutuhan dunia yang mencapai 3 juta ton. Sayangnya, selama ini tanaman kakao tersebut masih diorientasikan untuk diekspor. Ekspor yang dilakukan pun lebih banyak dalam bentuk mentah, yaitu 80 persen berupa biji kakao dan 20 persen ekspor barang jadi, sehingga nilai tambahnya relatif kecil. Padahal, nilai tambah tanaman kakao tersebut dapat ditingkatkan bila diolah lebih lanjut melalui pabrik coklat.

- Indonesia merupakan produsen minyak nilam terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 90 %. Pada tahun 2004, volume ekspor minyak nilam telah mencapai 2.074 ton dengan nilai sebesar US$ 27.137.000. Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum, yang berfungsi sebagai zat pengikat agar wewangian tidak cepat hilang pada saat pemakaian. Salah satu daerah yang berpotensi sebagai penghasil minyak nilam adalah Malingping di Kab. Lebak, Provinsi Banten. Disana terdapat 500 hektar kebun ylang-ylang milik Perum Perhutani yang sebagian sudah berproduksi dan hasilnya diolah menjadi minyak atsiri. Potensi besar dari ylang-ylang yaitu menjadi bahan dasar parfum. Namun, sayangnya Indonesia belum mampu mengolahnya sehingga Indonesia masih mengimpor parfum. Sampai saat ini, pengembangan teknologi pengolahan minyak nilam menjadi parfum memang belum meluas di Indonesia.

- Padi adalah komoditi pangan utama di Indonesia. Produksi padi di Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan sebesar 51.2 juta ton gabah kering giling. Padi mempunyai komposisi 7-8.5% dedak padi yang berpotensi sebagai minyak dedak padi. Minyak yang dihasilkan dari ekstraksi dedak padi, yang lebih dikenal dengan nama Rice Bran Oil ini, dapat dikonsumsi karena mengandung vitamin, antioksidan serta nutrisi yang diperlukan tubuh manusia. Bahkan minyak dedak dapat diolah menjadi minyak goreng yang mutunya lebih baik dari minyak kelapa, minyak sawit maupun minyak jagung. Akan tetapi, sampai saat ini Indonesia belum bisa memproduksi minyak dedak padi dalam skala besar sehingga Indonesia masih mengimpor jika memerlukan minyak dedak padi. Mengingat bahan mentahnya banyak terdapat di Indonesia serta murah harganya, pengembangan produk dari dedak kiranya potensial untuk dilaksanakan.

Berdasarkan deskripsi yang telah diberikan di atas, peserta diminta merancang suatu pabrik kimia dengan memanfaatkan potensi sumber daya hayati hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang terdapat pada daerah-daerah di Indonesia. Pabrik tersebut harus memberikan nilai tambah untuk mendorong terciptanya kemandirian dan daya saing perekonomian nasional.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pabrik yang akan dirancang meliputi:

1. Bahan baku utama yang digunakan berupa sumber hayati hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang terbukti tersedia di Indonesia. Daerah dimana bahan baku tersebut didapat harus dicantumkan secara spesifik.

2. Proses yang digunakan harus melibatkan konversi kimiawi, biokimia, dan atau mikrobiologi.


Kategori B: Pengembangan Industri Kimia Berbasiskan Potensi Sumber Daya Mineral

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang melimpah. Indonesia merupakan produsen terbesar kedua untuk komoditas timah, produsen terbesar kempat untuk komoditas tembaga, produsen terbesar kelima untuk komoditas nikel, dan lain sebagainya. Kendati demikian, kontribusinya terhadap perekonomian nasional masih relatif kecil bila dibandingkan potensi yang sebenarnya dimiliki. Rata-rata sektor pertambangan dan penggalian hanya menyumbang sekitar 8,46 persen PDB sejak 2003 hingga 2005. Hal ini disebabkan karena hanya sekitar sepertiga produksi tambang mineral yang diolah di dalam negeri sementara dua pertiganya diekspor dalam bentuk bijih dan konsentrat. Dengan demikian, nilai tambah dari hasil tambang mineral ini masih kecil.

Belum lagi bila kita meninjau kekayaan sumber daya mineral yang berasal dari air laut dan air asin daratan seperti garam, batu kapur, fosfat, maupun kalsium karbonat. Banyak daerah di Indonesia yang kaya akan bahan-bahan tersebut. Sebagian besar sumber daya mineral tersebut bahkan sama sekali belum dimanfaatkan. Padahal, sumber-sumber mineral tersebut sangatlah potensial untuk digunakan sebagai bahan baku industri kimia.

Dengan kenyataan seperti itu, bangsa ini perlu mengubah paradigma dalam pengelolaan sumber daya mineral demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Peningkatan nilai tambah sumber daya mineral, terutama pada sektor hilir, perlu diupayakan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengembangkan industri kimia yang berbasiskan sumber daya mineral tersebut mengingat bahwa sumber daya mineral sebenarnya merupakan sumber bahan baku yang potensial bagi beragam industri kimia. Selain itu, industri pemurnian mineral dalam negeri juga perlu dibangun agar nilai tambah bahan mineral tersebut tidak rendah karena hanya dimanfaatkan dalam bentuk mentahnya.

Contoh-contoh potensi pengembangan industri kimia berbasiskan sumber daya mineral:

- Saat ini Indonesia masih mengimpor alumina dari Australia. Padahal, Indonesia kaya akan sumber bahan baku pembuatan alumina, yaitu bijih bauksit (Bijih bauksit ini dapat dibuat menjadi alumina melalui proses Bayer). Sebagai contoh, Kalimantan Barat memiliki cadangan bijih bauksit hingga mencapai 810 juta ton. Selain menjadi alumina, bijih bauksit ini juga dapat dibuat menjadi alumium sulfat melalui proses Dorr.

- Soroako memiliki kekayaan sumber nikel yang melimpah yang diolah oleh PT Inco. Hampir 80 persen produksi bijih nikel yang diproduksi PT Inco tersebut diekspor ke Jepang. Ironisnya, untuk memenuhi kebutuhan nikel dalam negeri, Indonesia harus mengimpor kembali nikel yang sudah diolah di Jepang. Pengembangan industri pengolahan pemurnian nikel, seperti melalui proses Mond dapat meningkatkan nilai tambah kekayaan nikel bagi perkekonomian nasional.

- Banyak terdapat industri garam rakyat di Indonesia, seperti di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sekitar 900 ribu ton per tahun garam dapat dihasilkan dari kedua provinsi tersebut. Akan tetapi, kebanyakan garam tersebut bermutu rendah karena pengolahannya yang sederhana. Nilai tambah garam-garam surya tersebut dapat ditingkatkan bila industri garam yang ada diintegrasikan dengan pabrik pemulusan garam untuk memproduksi garam berkualitas tinggi. Selain itu, dari air asin pekat sisa produksi garam surya (bittern) dapat pula diperoleh produk potensial sepeti brom melalui proses Kublerschky.

Berdasarkan deskripsi yang telah diberikan di atas, peserta diminta merancang suatu pabrik kimia dengan memanfaatkan potensi sumber daya mineral yang terdapat pada daerah-daerah di Indonesia. Pabrik tersebut harus memberikan nilai tambah untuk mendorong terciptanya kemandirian dan daya saing perekonomian nasional.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pabrik yang akan dirancang meliputi:

1. Bahan baku utama yang digunakan berupa sumber mineral yang terbukti tersedia di Indonesia. Daerah dimana bahan baku tersebut didapat harus dicantumkan secara spesifik.

2. Proses yang digunakan harus melibatkan konversi kimiawi, biokimia, dan atau mikrobiologi.

Kategori C : Problem Solving


INFO : Lebih lengkapnya dapat dilihat di http://lrptnxi.com/info/


Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar