Tampilkan postingan dengan label Teknik Industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Industri. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

6 Pekerjaan Terfavorit Seorang Sarjana Teknik Kimia di Indonesia (2011)

"Berikut saya update tulisan saya pada tahun lalu (2011), yang dahulu saya tulis di Majari Magazine (http://majarimagazine.com/2011/06/6-pekerjaan-terfavorit-seorang-sarjana-teknik-kimia/)." Semoga berguna bagi kalian semuanya :) Salam hangat, Ivan.

Setelah seorang mahasiswa Teknik Kimia mendapat gelarnya, yaitu S. T, apa sih pekerjaan terfavorit mereka di dunia kerja? Tentunya bagi kalian yang masih mahasiswa Teknik Kimia, kalian akan melakukan rencana jangka panjang akan bekerja dimana, di bidang apa, di perusahaan apa, dan sebagai apa. Bagi kalian yang telah lulus atau baru lulus dari pendidikan Teknik Kimia, kalian juga tentunya pasti lebih memikirkan bidang pekerjaan yang akan kalian tekuni di dunia kerja nanti. Banyak pilihan yang terbuka untuk kita terjuni saat memasuki dunia kerja, namun apa sih yang terfavorit? Apa sih bidang pekerjaan dan perusahaan yang merupakan favorit lulusan Teknik Kimia saat ini?

Berikut saya paparkan trend 6 pekerjaan terfavorit sebagai seorang sarjana Teknik Kimia di Indonesia saat ini:

1. Oil & Gas (Owner & Services)

Oil & Gas masih merupakan salah satu pekerjaan terfavorit bagi lulusan Teknik Kimia, walaupun sebenarnya bidang ini merupakan ladang asli lulusan Teknik Perminyakan. Oil & Gas menjadi favorit mayoritas sarjana Teknik Kimia karena dinilai memberikan benefit yang tinggi baik dari segi salary, maupun dari segi training quality. Career development yang cukup baik juga menjadi alasan orang memilih pekerjaan di Oil & Gas. Alasan kekompleksan proses industri dan keunggulan teknologi di Oil & Gas juga menjadi tantangan tersendiri bagi sarjana Teknik Kimia. Perusahaan favorit bagi sarjana Teknik Kimia adalah Exxon Mobil, BP, ConocoPhillips, Total, Chevron, Vico, Shell, Pertamina, Medco, Schlumberger, Halliburton, Baker Hughes, Weatherford, dan masih banyak lagi.

2. FMCG (Fast Moving Consumer Goods)

FMCG menjadi salah satu pekerjaan favorit sarjana Teknik Kimia, karena dinilai dapat memberikan business sense yang tinggi saat menekuni di beberapa posisi pekerjaan FMCG. Benefit dari segi salary yang relatif tinggi juga menjadi alasan masuk ke FMCG, ditambah dengan career path yang baik pula. Skill baru seperti supply chain management, sales & marketing juga menjadi tantangan tersendiri bagi sarjana Teknik Kimia. Teknologi baru yang ditemukan di production/technical division menjadi tantangan tersendiri lainnya. Perusahaan FMCG yang menjadi favorit sarjana Teknik Kimia adalah Nestle, Unilever, P&G, Johnson & Johnson, L’Oreal, KAO dan masih banyak juga perusahaan FMCG lokal lainnya, seperti Sosro, Indofood, Orang Tua (OT), Garuda Food, Nutrifood, dan lain-lain.

3. EPCC (Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning)

EPCC dinilai cukup menarik bagi sarjana Teknik Kimia karena bidang pekerjaan ini sangat erat kaitannya dengan bidang studi sarjana Teknik Kimia yaitu perancangan pabrik kimia, atau chemical plant design. Perusahaan EPCC dinilai akan memberikan kesempatan yang besar bagi sarjana Teknik Kimia untuk mengasah ilmu keprofesian Teknik Kimia secara mendalam sehingga ilmu engineeringnya akan semakin menuju expert. Basic EPCC ada di pendidikan sarjana Teknik Kimia kira-kira hampir 80-90% kurikulum kuliahnya, jadi bidang pendidikan S1 Teknik Kimia memang sangat berhubungan langsung dengan dunia kerja EPCC atau EPC. Di bidang ini, sarjana Teknik Kimia akan diminta mengurusi PFD, P&ID, analisis NME, sizing peralatan proses pabrik, merancang proses kimia, trouble shooting, dan banyak lagi. Perusahaan favorit pilihan sarjana Teknik Kimia untuk bidang EPCC adalah KBR, Saipem, Technip, Rekayasa Industri, IKPT, Tripatra, Pasadena Engineering, dan masih banyak lagi.

4. Petrokimia

Petrokimia dinilai cukup menarik bagi sarjana Teknik Kimia sebab dunia Petrokimia juga dinilai erat kaitannya dengan studi pendidikan kurikulum sarjana Teknik Kimia. Proses di bidang petrokimia banyak melibatkan proses pencampuran, proses pemisahan, dan proses konversi kimia yang erat kaitannya dengan pendidikan sarjana Teknik Kimia. Bidang petrokimia juga dinilai sangat “Teknik Kimia sekali”, karena ilmu Teknik Kimia sangat terpakai di bidang pekerjaan ini, seperti analisis kolom distilasi, analisis reaktor sintesis, analisis kolom absorber, trouble shooting, pengolahan limbah, dan banyak lagi. Bidang industri pupuk urea dan amonia menjadi favorit pertama bagi sarjana Teknik Kimia. Perusahaan favorit tersebut antara lain adalah Pupuk Sriwidjaja, Petrogres, Pupuk Kaltim, dan KPA.

5. Chemical Industry

Chemical Industry juga dinilai berhubungan langsung dengan pendidikan sarjana Teknik Kimia. Hal tersebut menjadikan bidang ini juga menjadi favorit. Apalagi berhubungan langsung dengan bidang chemical. Perusahaan favorit sarjana Teknik Kimia adalah BASF, Nalco, Cognis, Givaudan, Lautan Luas, dan masih banyak lagi.

6. Management Consulting

Management Consulting dinilai dapat mengasah sarjana Teknik Kimia di bidang business sense dan segi management skill. Bidang ini akan sangat mengasah di bidang analytical thinking, outside the box, dan problem solving yang kuat. Gaji yang tinggi juga merupakan benefit yang sangat mendukung pekerjaan ini sehingga cukup diminati. Bidang pekerjaan ini hanya membutuhkan sedikit SDM. Jadi tentunya proses seleksinya juga akan relatif sulit dan peluangnya kecil. Bidang konsultan yang menjadi favorit adalah McKinsey & Company, BCG, Accenture, dan lainnya.

Enam bidang pekerjaan ini masih menjadi top 6 favorite bagi sarjana Teknik Kimia. Ke-favorite-an bidang pekerjaan tertentu bisa muncul dari benefit salary, career development, tantangan pekerjaannya, training system, relationship dengan pendidikan sarjana Teknik Kimia, business development, management development, dan masih banyak lagi tentunya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Bidang pekerjaan yang masih dapat dijelajahi oleh sarjana Teknik Kimia adalah bidang oleochemical, industri renewable energy (bioetanol, biodiesel, gasifikasi biomassa), industri katalis, agrobisnis, dan berbagai industri speciality chemical , dan masih banyak lagi. Selain itu pekerjaan seperti dosen / pengajar dan peneliti merupakan bidang pekerjaan yang harus dikembangkan lebih besar agar ke depannya ilmu Teknik Kimia terus lestari dan berkembang pesat seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi zaman. Bidang entrepreneur di berbagai bidang usaha juga merupakan bidang yang sedang dijajaki oleh kaum-kaum muda sekarang-sekarang ini.

Oleh: Ivan Hadinata Rimbualam

Sumber : http://majarimagazine.com/2011/06/6-pekerjaan-terfavorit-seorang-sarjana-teknik-kimia/
Sumber Gambar:http://lpmp-gorontalo.blogspot.com/2011/07/apa-yang-salah-dengan-pendidikan-tinggi.html

Rabu, 23 Maret 2011

Ringkasan “Forum ITB – Industri Indonesia 2020 & beyond“

Ringkasan “Forum ITB – Industri Indonesia 2020 & beyond“
Kamis, 17 Maret 2011 pk. 14:00 - 18:00 di Gedung The Energy lantai 28, SCBD Jakarta.

Oleh : Ivan Hadinata Rimbualam / ITB 2007

A. Ibu Yani Panigoro, selaku Ketua MWA ITB dan Penyelenggara “Forum ITB – Industri Indonesia 2020 & beyond“, memberikan sambutannya kepada para peserta forum ini dan menjelaskan tujuan forum ini secara umum.

Tujuan Forum:
1. ITB Mendengar
2. Memperkuat Kolaborasi ITB-Industri
3. Master Plan ITB 2020

Sesi 1:

B. Pak Martiono Hadianto (CEO Newmont) mempresentasikan mengenai “Link & Match: The Newmont Case”. Beliau mengatakan bahwa visi hebat dan jangka panjang ITB haruslah didukung secara penuh oleh pemerintah Indonesia. Visi dan rencana yang disusun ITB haruslah diketahui dan disejalankan dengan pemerintah Indonesia agar rencana yang dikerjakan ITB tidak sia-sia dan didukung penuh oleh segenap bangsa Indonesia. Kekuatan ITB haruslah sejalan juga dengan dukungan pemerintah Indonesia. Newmont berjanji akan sangat membantu ide-ide inovatif dari ITB.

Beliau menyimpulkan bahwa agar ITB mencapai visinya di 2020 dengan gemilang, maka ITB dan Alumni ITB harus menyesuaikan lingkungan bisnis/kerja, menyelesaikan gap yang terjadi pada kebutuhan perusahaan dan kemampuan universitas/pendidikan tinggi, universitas harus mencari cara unik dan berbeda agar memperkecil gap tersebut, serta upaya perusahaan juga untuk menjembatani gap tersebut.


C. Pak Triharyo Soesilo (Pertamina Persero)/ Pak Hengki

1. Trend Surplus Ekspor Indonesia akan CPO dan Karet naik, namun tidak ada ahli / expertise dari ITB di area ini. “Alumni ITB are in wrong business”. Alumni ITB belum berani merambah dunia oleochemical, padahal area ini menyediakan peluang yang sangat besar dengan data-data ekspor yang terus meningkat.
2. Trend Surplus Ekspor Indonesia akan Bahan Tambang terus naik. Alumni ITB sukses menguasai Bahan Tambang, seperti terdapat CEO ANTAM, CEO Newmont, dll. Namun bahan tambang batubara hanya diekspor saja, tidak dinaikan nilai jualnya terlebih dahulu. Padahal batubara lebih efektif jika diolah terlebih dahulu, seperti dilikuefaksi, digasifikasi, dll sebelum dijual. Nilai jual batubara yang sudah diolah akan lebih tinggi daripada hanya dijual sebagai batubara mentah.
3. Trend Produk Listrik: Indonesia dari pengekspor menjadi pengimpor. Hal ini ironis sekali. Dahulu produk listrik merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Namun sekarang kita harus mengimpor produk listrik.
4. Trend Produk Mekanik: mengalami hal ironis sama dengan Trend Produk Listrik, yaitu Indonesia dari pengekspor menjadi pengimpor.

Pertarungan di masa akan datang adalah perebutan pasar, bukan perebutan SDA lagi karena pasar tidak ada batasnya. Market sebuah bisnis tak ada batasnya, sedangkan SDA telah terkotak-kotak oleh yang namanya negara.

D. Pak Fazwar Bujang (CEO Krakatau Steel) berpedapat bahwa untuk mengembangkan pendidikan di ITB dalam menunjang industri baja nasional perlunya mahasiswa ITB memanfaatkan lebih waktu liburnya/ semester pendek bukan untuk mempercepat waktu kelulusannya, namun menggali pengalaman mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi dan pengalaman sebagai bekal untuk profesionalisme/entrepreunership. Hal tersebut dapat diperoleh dengan mencari pengalaman lewat kerja praktek dan mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan kreativitas dan kesiapan mahasiswa di masyarakat. Program semester pendek sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk pelatihan/pendidikan mempersiapkan agar lulusan ITB siap pakai. ITB juga sebaiknya mengembangkan juga program D3 dan D4. Pendidikan Strata-2 sebaiknya dibagi menjadi 2 jenis yaitu: Scientific dan Aplikatif. ITB juga harus wajib menanamkan budaya integritas yang tinggi dan kemampuan bekerja secara team work.

Sesi 2:

E. Pak Hamid Batubara (CEO Chevron) mengatakan bahwa dibutuhkan alumni dari ITB yang merupakan SDM yang tangguh dalam jangka waktu yang panjang. Tangguh artinya tidak mudah menyerah dan juga dapat bekerja dengan keras, serta dapat bekerjasama dengan sesama yang lain. Chevron mengadakan berbagai program internship yang ditujukkan untuk meningkatkan pengalaman SDM dari mahasiswa ITB.

F. Eden Napitupulu (CEO COGINDO), COGINDO merupakan anak perusahaan dari PLN. Beliau memaparkan tingkat konsumsi energi dunia pada 2015 akan menunjukkan bahwa negara China akan melampaui negara USA. Kebutuhan China akan meningkat secara pesat menuju 2015. Hal ini akan berdampak besar pada penyediaan energi di dunia. Beliau menjelaskan alasan Alumni ITB sekarang lebih sukar beradapatasi saat menghadapi dunia kerja / nyata dibandingkan dengan alumni universitas lain. Beliau juga mengatakan alumni universitas lain lebih bersifat fleksibel, mungkin karena mayoritas berlokasi di Jakarta, Metropolitan Indonesia. Beliau sambil bercanda mengatakan bahwa sebaiknya ITB membangun cabang di dekat kota Jakarta, Metropolitan Indonesia, bukan di daerah-daerah terpencil jauh dari metropolitan yang menyebabkan mahasiswanya kurang fleksibel.

G. Pak Rinaldi Firmansyah (CEO Telkom)

Beliau menjelaskan bahwa menurutnya Alumni ITB kurang “attack”, yaitu kurang berjuang dan terlalu mudah menyerah pada kondisi yang sulit. Alumni ITB kurang memiliki nyali untuk berjuang dan bekerja keras. Kelemahan bahasa inggris sebagai salah satu modal berkompetisi dengan lulusan terbaik dari berbagai universitas luar negeri juga menjadi kelemahan para Alumni ITB. Kekurangan kemampuan bahasa internasional ini merupakan concern yang harus diperjuangkan. Bahasa inggris yang lemah membuat alumni ITB tidak dapat masuk ke top school di dunia karena merupakan syarat utama agar dapat berkompetisi dalam dunia.
Sesi 3:

H. Pak R. J. Lino (CEO Pelabuhan Indonesia II)
Beliau menjelaskan bahwa agar perusahaan Pelindo II sukses maka faktor infrastrukturnya harus juga kuat. Sedangkan infrastruktur di Indonesia untuk menunjang industri pelabuhan dari dahulu sampai sekarang perbaikannya hampir tidak ada yang berarti. Lalu bagaimana perusahaan pelabuhan dapat bersaing dengan kondisi tantangan ini. Beliau juga mengatakan lulusan berbagai universitas tidak memiliki pengalaman dalam dunia industri pelabuhan.

I. Pak Bambang (CEO Tempo)
Beliau menekankan janganlah kita sebagai Alumni ITB membiarkan berbagai penyelewengan terjadi di sekitar kita, kita harus menggalang kekuatan bersama satu Alumni ITB untuk menaikan nyali, keberanian dan ketangguhan kita, serta nilai integritas kita dalam melawan segala ketidak benaran agar semua hal yang menyeleweng dapat ditindak tegas. Beliau menjelaskan janganlah kita terlalu sering menyalahkan pemerintah Indonesia, namun kita harus berjuang membantu pemerintahan dan tidak terlalu bergantung kepada pemerintah. Kita harus berjuang hal – hal yang dapat kita perjuangkan demi bangsa ini sebagai satu Alumni ITB.

Kamis, 07 Januari 2010

OTOCleanic


Executive Summary


Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia sangat identik dengan kesibukan. Tingkat kesibukan yang tinggi mengakibatkan waktu masyarakat Bandung untuk mencuci mobil berkurang, dan bahkan tidak ada sehingga dibutuhkan suatu pelayanan cuci mobil yang cepat, bersih dan ekonomis. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, OTOCleanic hadir di kota Bandung. OTOCleanic merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa cuci mobil otomatis sebagai produk utamanya. Sesuai visi dan misi perusahaan, OTOCleanic menyediakan layanan cuci mobil yang bersih dan cepat dengan standar internasional yang didukung staff terlatih. OTOCleanic berlokasi di Jl. Otto Iskandardinata yang merupakan salah satu daerah strategis di Bandung.

Target pasar OTOCleanic adalah penduduk kota Bandung dan sekitarnya yang berusia 20 – 54 tahun yang berpenghasilan di atas Rp2.000.000,00. Market share OTOCleanic diperkirakan mencapai 33,33%. Harga jasa cuci mobil otomatis OTOCleanic adalah Rp30.000,00 dan Rp500.000,00 untuk salon mobil. Setiap bulannya perusahaan sanggup mencuci 3168 mobil dan melayani 245 mobil untuk jasa salon mobil. Promosi dilakukan melalui selebaran (flyer), situs resmi perusahaan, dan program khusus lainnya.

Setiap bulan, perusahaan akan menerima laba sekitar Rp40.088.035,00. Modal perusahaan berasal dari investor, bank, dan dana pribadi dengan persentase masing-masing sebesar 36%, 37%, dan 27%. Secara umum, bisnis ini sangat layak untuk dijalankan mengingat besar IRR yang diproyeksikan mencapai 11,32% dengan tingkat pengembalian sebesar Rp1.390.721.927,00.
Seiring dengan berjalannya waktu, OTOCleanic akan membuka cabang/gerai di berbagai kota besar lainnya di Indonesia dan menjadikan OTOCleanic sebagai bisnis dengan sistem waralaba (franchise).


Tugas Ekonomi Teknik
Business Plan