I am still 22 years old. Graduated from Chemical Engineering ITB. Part of @yli_ac. Struggling to be a Supply Chain Specialist in a Multinational FMCG Company.
Twitter: @Ivanhadinata; Linkedin: http://id.linkedin.com/pub/ivan-hadinata-rimbualam/37/b26/58a
Create Indonesia as an Eco Country in 2014 By : Ivan Hadinata Rimbualam
Recently, environmental issues have become one of the hot topics discussed by the society in many countries. Universities as educational institutions have to play an important role as the center of excellence with three main roles: education, research and community development to conribute real solutions to these environmental problems. One of the best solutions is to realize the Eco Campus movement toward university which concerns about environmental issue. By definition of ITB Eco Campus student team, Eco Campus is a university that has a sustainable environmental management system to create ITB as an environmental friendly towards university which concerns about environmental issue. In 2014, ITB was expected to implement environmental friendly culture and become a role model department in ITB and inspire other universities in Indonesia in an green lifestyle.
Eco Chemical Engineering, as part of ITB Eco Campus movement, focussed on Chemical Engineering department, was formed on February 6th, 2010. Main objectives for Eco Chemical Engineering team is to start an environmental friendly culture among academicians of Chemical Engineering ITB, in order to be able to implement a sustainable environmental management system by minimizing the waste volume production regularly and improve waste management in Chemical Engineering department. Until now, Eco Chemical Engineering have minimized the waste production by providing facilities from 100 glasses to HIMATEK (Chemical Engineering Student Association) program, spreading the using of 40 antiplastic bags, providing 4 aseptic bins, and giving encouragement for the implementation of Green Event standards of procedure (SOP) in HIMATEK’s event
The main vision of Eco Chemical Engineering team at the end of 2010 is the availability of supporting facilities for separating waste and the socialization of mechanism for waste disposal distribution chain in Labtek X, Chemical Engineering, ITB. In addition, Eco Chemical Engineering has another purpose. It is to improve the environmental friendly culture socialization in Chemical Engineering, reduce daily paper waste production by 50% from academic reports with using paper on two sides concept, reducing 60% volume waste production from HIMATEK’s events, give education for separating of waste to the Chemical Engineering ITB new students, and develop environmental friendly building concepts ITB Eco Campus. The long-term vision for Eco Chemical Engineering is to make Chemical Engineering deparrment in ITB as an Eco department in ITB and encourage another departments and other universities to conduct similar efforts for realizing the big dream of creating Indonesia as an Eco Country in 2014
Key words : Eco Chemical Engineering, ITB Eco Campus, environmental friendly
Mewujudkan Indonesia sebagai Negara Berwawasan Lingkungan pada 2014 Oleh : Ivan Hadinata Rimbualam
Beberapa tahun terakhir ini, isu lingkungan telah menjadi salah satu topik hangat yang diperbincangkan oleh masyarakat di banyak negara. Universitas sebagai institusi pendidikan tentunya memegang peranan yang penting sebagai center of excellence dengan tiga peran utamanya yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk memberikan solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan tersebut. Salah satunya adalah dengan mewujudkan gerakan Eco Campus menuju universitas yang berwawasan lingkungan. Sesuai definisi tim mahasiswa ITB Eco Campus, Eco Campus merupakan universitas yang memiliki sistem manajemen lingkungan yang berkelanjutan untuk mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan. Pada tahun 2014, civitas akademik ITB diharapkan mampu menerapkan budaya peduli lingkungan dan menjadi teladan dan inspirasi bagi universitas lainnya di Indonesia dalam gaya hidup yang berwawasan lingkungan.
Eco Chemical Engineering sebagai bagian dalam gerakan ITB Eco Campus dalam lingkup Teknik Kimia ITB, lahir pada tanggal 6 Februari 2010. Tujuan utama Eco Chemical Engineering adalah memulai budaya peduli lingkungan bagi civitas akademika Teknik Kimia ITB agar mampu menerapkan pengelolaan program studi di ITB yang berwawasan lingkungan dengan meminimalkan volum sampah secara berkala dan meningkatkan pengelolaan sampah di Teknik Kimia ITB. Sampai saat ini, Eco Chemical Engineering meminimalkan produksi sampah dengan memberikan fasilitas 100 gelas kepada HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia), menyebarkan penggunaan 40 tas antiplastik, menyediakan 4 tempat sampah aseptik, dan mendorong terlaksananya standar of procedure Green Event pada kegiatan HIMATEK.
Visi utama tim Eco Chemical Engineering pada akhir tahun 2010 yaitu tersedianya fasilitas pendukung pemilahan sampah dan sosialisasi jalur distribusi sampah di Labtek X, Teknik Kimia ITB. Selain itu, Eco Chemical Engineering punya tujuan lain yaitu semakin meningkatkan sosialisasi lingkungan di Teknik Kimia, mengurangi sampah laporan akademik sebesar 50% dengan konsep kertas bolak balik, mengurangi sampah pada kegiatan HIMATEK sebesar 60% volume dari jumlah sampah rata-rata sekarang, melakukan pendidikan pemilahan sampah kepada mahasiswa baru Teknik Kimia ITB, dan mengembangkan konsep gedung ramah lingkungan ITB Eco Campus. Visi jangka panjang Eco Chemical Engineering adalah menjadikan Teknik Kimia ITB sebagai program studi yang berwawasan lingkungan dan mendorong berbagai program studi lainnya dan universitas lainnya untuk melakukan upaya yang sama dalam mewujudkan mimpi besar yaitu Indonesia sebagai negara berwawasan lingkungan pada 2014.
Kata kunci : Eco Chemical Engineering, ITB Eco Campus, berwawasan lingkungan
You can read this article too in http://futureyoungleaders.blogspot.com/
Pangan merupakan kebutuhan nutrisi bagi manusia. Kebutuhan yang penting ini merupakan penentu kesejahteraan sebagian besar penduduk pedesaan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh mata pencaharian mereka berupa ”on farm” yang terdiri atas petani berlahan dan buruh tani. Di Indonesia, ketahanan pangan dicerminkan oleh ketahanan komoditi beras yang merupakan komoditas pangan yang paling strategis di Indonesia. Oleh karena itu, diaplikasikanlah kegiatan Pengabdian Masyarakat ”Aplikasi Teknologi SRI (System of Rice Intensification) Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Desa Pakutandang”
Kegiatan pengabdian masyarakat ini didasarkan pada pengaplikasian teknologi SRI. Teknologi ini membutuhkan dua komponen penting, yaitu kompos dan mikroorganisme lokal (MOL).Oleh karena itu, kedua komponen tersebut harus dipersiapkan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan membangun reaktor berupa saung kompos untuk memproduksi kompos yang akan digunakan sebagai media tanam dari teknologi SRI. Selain itu, komponen MOL juga harus dipersiapkan. Hal ini dilakukan dengan cara memperkenalkan cara pembuatan MOL kepada masyarakat Desa Pakutandang RW 21. Metode yang dilakukan pada pengabdian masyarakat ini terdiri dari : survei, pendekatan ke masyarakat, propaganda, pembangunan saung kompos.penyuluhan, praktik pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos, praktik penanaman padi di polybag,dan pendampingan..
Program yang telah dilaksanakan selama empat bulan ini, telah memberikan hasil bagi masyarakat Desa Pakutandang. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hasil produksi berupa kompos yang telah dicoba untuk tanaman singkong dan padi dalam polybag sebelum diaplikasikan pada lahan sawah mereka. Peningkatan produksi padi belum terlihat. Hal ini disebabkan program yang dilakukan ini harus dilakukan secara bertahap, yaitu mempersiapkan kompos dan MOL terlebih dahulu sebagai bahan dasar dari teknologi SRI ini. Setelah penggunaan kompos dan MOL dapat dilakukan dengan baik, diharapkan kedua komponen ini dapat digunakan untuk tanaman padi sehingga produktivitas padi dapat meningkat.
Kata kunci : System of Rice Intensification (SRI), Mikroorganisme lokal (MOL), kompos
Penulis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat bimbingan-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Mubiar Purwasasmita selaku pembimbing penulis dalam pembuatan laporan yang berjudul ”Aplikasi Teknologi SRI (System of Rice Intensification) Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Desa Pakutandang” ini. Berkat bimbingan Beliau, penulis dapat melaksanakan program ini dengan baik dan menyelesaikan laporan tepat waktu.
Laporan ini berisi tentang hasil kegiatan yang telah dilakukan penulis di RW 21 Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Penulis berharap laporan ini dapat memberikan gambaran kepada para pembaca tentang pengaplikasian metode padi SRI sehingga semakin banyak pihak yang mengerti teknologi SRI dan mengaplikasikannya. Dengan demikian, Indonesia dapat secara bertahap meningkatkan produktivitas padi untuk memenuhi kebutuhan pangan secara nasional.
Penulis memohon maaf atas kesalahan dalam penulisan maupun kesalahan dalam pengungkapan maksud dan tujuan yang mungkin menyinggung hati para pembaca. Tak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan laporan ini. Kekurangan yang ada di dalam laporan ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat penulis harapkan agar penulis dapat memperbaikinya pada laporan-laporan berikutnya. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.
Bandung, 23 Juni 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Energi merupakan suatu kebutuhan yang krusial bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu cara pemenuhan kebutuhan ini adalah dengan mengkonsumsi makanan sebagai salah satu sumber energi. Di Indonesia, nasi menjadi makanan pokok yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat. Secara tidak langsung, kebutuhan akan padi sebagai tanaman pangan yang dapat diolah menjadi nasi sangatlah penting.
Tahun 80's sampai 90's, Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia dengan pertumbuhan GDP sangat mengesankan, 7-8 % setahun. Hal ini salah satunya dikarenakan produksi beras padi yang melimpah sampai Indonesia bisa melakukan swadaya beras. Terlebih, dengan krisis yang begitu dahsyat, bencana yang datang bertubi tubi, turbulensi politik, aksi aksi terorisme, penggerogotan oleh bangsa lain, bangsa ini tetap tegak berdiri, dan tidak jatuh terpelanting terlalu jauh. Bandingkan dengan Yugoslavia, Rusia, dan bangsa bangsa lain yang terpecah karena tidak tahan banting. Tetapi, saat ini keadaan menjadi berubah 180 derajat. Indonesia yang dulu mampu melakukan swadaya beras sekarang harus mengimpor beras dengan kuantitas yang cukup besar. Hal ini tentu sangat kontradiktif dengan pernyataan bahwa negara Indonesia adalah negara agraris.
Bagi Indonesia, pangan adalah penentu kesejahteraan sebagian besar penduduk pedesaan yang mata pencahariannya pada ”on farm” yang terdiri atas petani berlahan dan buruh tani. Di Indonesia, ketahanan pangan dicerminkan antara lain oleh ketahanan komoditi beras yang merupakan komoditas pangan yang paling strategis di Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian Masyarakat ”Aplikasi Teknologi SRI (System of Rice Intensification) Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Desa Pakutandang” ini dimaksudkan untuk membangkitkan lagi kekuatan ekonomi Indonesia.
Manfaat dari Teknologi SRI ini sebelumnya telah dirasakan oleh berbagai negara yang mengaplikasikan teknologi ini. Produksi padi yang melimpah, efisiensi penggunaan bibit, keuntungan yang meningkat, dan perbaikan kondisi biologis tanah merupakan beberapa manfaat dari aplikasi teknologi SRI. Lebih jauh, teknologi SRI juga dapat berkontribusi dalam penyelesaian masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti masalah sampah dan keterbatasan Sumber Daya Alam Tak Terbaharui (Non-Renewable Resources). Pada permasalahan penyelesaian sampah, teknologi SRI melibatkan pengolahan sampah menjadi kompos yang tentunya memiliki nilai guna lebih tinggi. Pada permasalahan keterbatasan Sumber Daya Alam Tak Terbaharui, teknologi SRI dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia. Sedangkan bahan baku dari pupuk kimia adalah amoniak (NH3) yang pembuatannya berasal dari reforming gas alam. Sehingga, secara tidak langsung teknologi SRI dapat mengurangi konsumsi gas alam yang dilakukan oleh sektor industri pupuk kimia.
1.2Perumusan Masalah
1.Bagaimana meningkatkan penggunaan kompos di Desa Pakutandang?
2.Bagaimana memperkenalkan Mikroorganisme Lokal (MOL) kepada masyarakat Desa Pakutandang?
3.Bagaimana menerapkan teknologi System of Rice Intensification (SRI) untuk meningkatkan produktivitas padi?
4.Bagaimana teknologi System of Rice Intensification (SRI) dapat diterima dan diaplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat Desa Pakutandang?
1.3Tujuan Program
1. Meningkatkan penggunaan kompos di Desa Pakutandang dengan membangun reaktor berupa saung kompos.
2. Memperkenalkan Mikroorganisme Lokal (MOL) dengan mengadakan penyuluhan dan simulasi pembuatannya.
1.4Kegunaan Program
1.Kualitas lahan persawahan Desa Pakutandang meningkat dengan kembalinya unsur-unsur hara yang hilang akibat penggunaan pupuk kimia.
2.Biaya pertanian yang dikeluarkan dapat diminimalisasi dengan efisiensi penggunaan bibit, air, pupuk, dan pestisida.
3.Penggunaan CH4 dari gas alam sebagai bahan baku pembuatan pupuk kimia secara tidak langsung dapat dikurangi dengan penggantian bahan organik sebagai sumber nutrisi utama tanah.
4.Masyarakat Desa Pakutandang mengetahui cara memilah sampah organik dan anorganik dengan benar.
5.Kuantitas sampah organik yang berlebih dapat dimanfaatkan menjadi kompos
1.5Luaran Program
1. Produktivitas padi di Desa Pakutandang meningkat.
2.Tercipta komunitas kelompok tani yang dapat menghasilkan kompos secaramandiri
3.Lahan selain sawah dapat dimanfaatkan sebagai lokasi penanaman padi dalam polybag.
4.Keuntungan lingkungan, sosial, dan ekonomi dari penerapan teknologi SRI dapat dirasakan oleh semua pihak.
5.Pihak yang terkait (pemerintah, masyarakat, dan instansi lainnya) akan memberi perhatian lebih dan segera bertindak atau berpartisipasi dalam sosialisasi teknologi SRI, terutama dalam pengaplikasiannya pada lahan-lahan pertanian di Indonesia.
BAB II
Gambaran Umum Masyarakat
Sasaran aplikasi teknologi System of Rice Intensification (SRI) adalah RW 21 Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Kondisi geografis lahan RW 21 Desa Pakutandang sebenarnya masih merupakan tanah carik desa yang berupa bukit dan bukan ditujukan untuk perumahan. Awal mulanya, pada lahan tersebut didirikan saung-saung yang kemudian berkembang menjadi bangunan semi permanent dan permanen.
Mata pencaharian yang menjadi dominan di kawasan tersebut adalah petani sawah dan kebun serta pengrajin. Sebagai petani, pekerjaan mereka terbatas sebagai buruh tani dengan mengolah sawah milik orang lain. Pemilik sawah tersebut kebanyakan merupakan orang setempat.
Dewasa ini, masyarakat setempat tidak lagi menaruh fokus pada bidang pertanian, petani sawah tidak lagi sebanyak yang dulu karena lahirnya home industry.
Alasan masyarakat memindahkan fokusnya dari pertanian :
1.Keuntungan yang diperoleh kecil, khususnya bagi petani yang tidak memiliki lahan yang luas
2.Ongkos pekerja yang semakin tinggi
3.Hasil panen ditentukan oleh bandar, pemilik lahan (petani) hanya mendapat bagian yang kecil
4.Harga pupuk mahal
5.Generasi muda sudah tidak tertarik ke arah pertanian
Catatan lain :
1.Pernah bergeser ke peternakan
2.Padi yang dihasilkan ditujukan untuk konsumsi sendiri, sisanya didistribusikan ke pasar induk
3.Penggilingan dibayar dengan beras
4.Ada subsidi pupuk
BAB III
METODE PENDEKATAN
Pembahasan pada metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap-tahap berikut:
1.Survei
Hal pertama yang dilakukan dalam menjalankan program ini adalah survei.Survei dilakukan dalam tiga tahap :
a.Meninjau data kependudukan.
Data kependudukan berupa mata pencaharian, kondisi ekonomi, luas area pertanian, dan jumlah penduduk diperoleh melalui Kantor Kepala Desa Pakutandang. Data tersebut akan memberikan visualisasi awal mengenai kondisi sasaran program.
b.Observasi langsung ke Desa Pakutandang, RW 21.
Observasi langsung merupakan tahap lanjutan dari peninjauan data kependudukan untuk mendapatkan validasi dari pihak setempat.
c.Wawancara masyarakat setempat dan instansi-instansi lain yang terkait.
Wawancara dilakukan secara paralel dengan observasi dan peninjauan data penduduk. Hal ini juga dilaksanakan untuk menghimpun data penduduk dan yang lebih penting adalah untuk mengetahui pola pikir masyarakat
2.Pendekatan ke masyarakat
Program yang dilaksanakan dapat dikatakan tidak mudah sebab kami bukan membawa teknologi yang berwujud nyata secara fisik melainkan berupa pemahaman untuk mengubah metode penanaman padi konvensional yang sudah menjadi tradisi. Oleh karena itu, program dapat berjalan dengan baik apabila terdapat keterbukaan dari kedua belah pihak sehingga apa yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat setempat. Wujud pendekatan ke masyarakat RW 21 Desa Pakutandang berupa :
a.Audiensi
Audiensi dilakukan untuk mengetahui kesiapan dari kedua pihak dan menginformasikan rangkaian acara yang akan dilakukan. Sasaran audiensi yang dilakukan yaitu warga setempat, khususnya kelompok tani Desa Pakutandang. Audiensi akan dilaksanakan di masa pendekatan kepada masyarakat, selebihnya akan dilaksanakan jika dirasakan perlu.
b.Perbaikan kantor RW
Perbaikan kantor RW dilaksanakan dengan tujuan memperbaiki fasilitas kantor RW 21 karena merupakan media penting bagi warga sekitar. Selain itu kegiatan perbaikan kantor RW setempat merupakan media bagi mahasiswa untuk melakukan pendekatan dengan warga sekitar. Kegiatan ini dilakukan mahasiswa bersama warga. Perbaikan ini dilakukan oleh warga setempat sejumlah 10 orang
c.Perbaikan fasilitas MCK
Perbaikan faslitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang berjumlah tiga buah bertujuan untuk memperbaiki fasilitas warga setempat dan sebagai media pendekatan bagi mahasiswa dengan warga sekitar. Perbaikan ini dilakukan oleh mahasiswa dan warga setempat sejumlah 10 orang
3.Propaganda
Propaganda dilakukan dengan tujuan menarik simpati masyarakat sekaligus sosialisasi kegiatan di Desa Pakutandang. Sasaran dari propaganda ini adalah masyarakat Desa Pakutandang beserta pihak-pihak dan instansi yang terkait. Wujud propaganda yang akan dilakukan ke depannya berupa spanduk beserta poster yang akan dipasang di beberapa titik strategis di RW 21 Desa Pakutandang. Sampai saat ini propaganda yang sudah dilakukan baru berupa propaganda lisan dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, terutama lewat ketua RW dan ketua RT Desa Pakutandang serta melalui beberapa tokoh desa di sana. Dengan propaganda ini, diharapkan masyarakat akan semakin simpatik dengan kegiatan mengenai metode System of Rice Intensification di Desa Pakutandang.
4.Pembangunan saung kompos
Saung kompos merupakan tempat pembuatan kompos yang berguna untuk melindungi proses pengomposan dari hujan. Oleh karena pentingnya kegunaan saung kompos, maka pembuatan saung kompos merupakan hal penting yang harus dilakukan. Tujuan pembangunan saung yaitu sebagai areal percontohan bagi petani Desa Pakutandang dalam membuat kompos sekaligus sebagai modal awal agar petani Desa Pakutandang dapat mandiri dalam penyediaan kompos yang merupakan elemen penting dalam metode SRI.
Pembuatan saung kompos dilakukan dengan tahapan:
1.Pencarian lokasi yang tepat untuk membangun saung agar masyarakat mudah menjangkau lokasi tersebut.
2.Pencarian bahan-bahan saung berupa bambu, kawat pengikat bambu, dan terpal
3.Perakitan bambu-bambu menjadi saung
4.Pemasangan terpal sebagai atap saung
5.Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan bertujuan memberikan informasi mengenai pertanian. Penyuluhan dipandu oleh seorang praktisi padi SRI yaitu Bapak Utju. Tempat penyuluhan dilakukan di dalam Masjid RW 21. Sasaran penyuluhan ini adalah kelompok petani RW 21. Penyuluhan ini dilengkapi dengan sarana diskusi langsung antara Bapak Utju dan para petani setempat yang berjumlah sekitar 20 petani..
Materi yang disampaikan bagi kelompok petani mencakup :
a.cara pembuatan MOL (mikroorganisme lokal)
b.cara pembuatan kompos
c.penjelasan umum padi SRI
6.Praktik pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) dankompos
MOL dan kompos merupakan elemen penting yang mendukung pengolahan sawah dengan metode SRI. Oleh karena itu, praktik pembuatan MOL dan kompos perlu dilakukan agar petani Desa Pakutandang dapat secara mandiri membuat bahan tersebut. Praktik pembuatan MOL dan kompos dipandu oleh praktisinya yaitu Bapak Utju, yang diikuti oleh sekitar 20 petani. Metode pelaksanaan pembuatan MOL dipraktikkan langsung mahasiswa bersama petani. Sebelum praktik pembuatan kompos, disiapkan MOLdankotoran hewan sebagai starter beserta sampah-sampah organik.Setelah itu mahasiswa bersama petani mempraktikkan pembuatan kompos dipandu oleh Bapak Ujtu.
7.Praktik penanaman padi di polybag
Sasaran kegiatan praktik penanaman padi di polybag adalah ibu-ibu di RW 21 Desa Pakutandang. Praktik ini bertujuan memberikan contoh nyata kepada para petani mengenai cara penanaman padi dengan metode SRI melalui praktikpenanaman padi SRI bersama ibu-ibu. Hal ini dikarenakan ibu-ibu memiliki waktu luang yang lebih banyak dibandingkan dengan petani setempat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa beserta ibu-ibu. Polybag dipilih sebagai tempat percontohan sebelum diaplikasikan langsung di area persawahan sehingga resiko yang timbul dapat diminimalisasi.
Sebelum praktik penanaman padi, telah disediakan semaian padi. Semaian tersebut dipindahkan ke dalam polybag saat praktik penanaman padi. Dalam praktik ini juga dijelaskan teknik-teknik pemindahan semaian padi dan pengelolaan lahan.
8.Pendampingan
Pendampingan dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol dan memberikan solusi kepada petani jika terjadi masalah dalam pelaksanaannya. Selain itu, pendampingan ini juga bertujuan untuk menjaga hubungan antara mahasiswa dengan masyarakat Desa Pakutandang. Mahasiswa sudah melakukan pendampingan sebanyak empat kali dengan cara menggilir beberapa mahasiswa secara berkala setiap 2 minggu sekali. Dalam pendampingan akan dipantau beberapa aspek, seperti pemeriksaan kondisi kompos pada saung kompos dan kondisi padi SRI dalam polybag.
Berdasarkan hasil pendampingan yang telah dilakukan sebanyak empat kali, proses pengomposan telah berlangsung dengan baik dan sebagian kompos yang matang telah digunakan untuk menanam singkong. Menurut penuturan petani yang menggunakannya, hasil pertumbuhan tanaman singkong dirasa lebih baik. Selain itu, untuk pertumbuhan padi di polybag berlangsung dengan baik, ditunjukkan pertambahan jumlah daun dan tinggi batang.
Diagram Metode Pelaksanaan Program:
BAB IV
PELAKSANAAN PROGRAM
4.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tanggal
Tempat
Waktu
Pelaksana
Kegiatan
September 2008
RW 21 Desa Pakutandang
12.00-13.00
Riri, Kintari
Survey
Meninjau data kependudukan
Desember 2008
-
Riri, Kintari, Adi, Ivan, Vici
Observasi langsung
Desember 2008
-
Riri, Kintari, Adi, Ivan, Vici
Wawancara
13 Desember 2008
Masjid
13.00-15.00
Pendekatan masyarakat
Audiensi
Desember 2008-Februari 2009
RW 21 Desa Pakutandang
-
Riri, Kintari, Adi, Ivan, Vici
Propaganda
29 Maret 2009
Kantor RW 21
10.00-16.00
Riri, Ivan, Vici
Pendekatan masyarakat
Perbaikan kantor RW
29 Maret 2009
Lokasi MCK
10.00-16.00
Riri, Ivan, Vici
Perbaikan fasilitas MCK
17-18April 2009
Depan Rumah Pak Didi
-
Warga
Pembangunan saung kompos
19 April 2009
Masjid
13.00-14.30
Bapak Utju (Praktisi padi SRI), Riri, Kintari, Ivan, Vici
Penyuluhan
1.Cara pembuatan MOL
2.Cara pembuatan kompos
3.Penjelasan umum padi SRI
19 April 2009
Saung kompos
14.30-16.00
Bapak Utju (Praktisi padi SRI), Riri, Kintari, Ivan, Vici
Praktik pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos
19 April 2009
Dekat Rumah Bu Ninie
14.00-16.00
Riri, Kintari, Ivan, Vici
Praktik penanaman padi di polybag
2 Mei 2009
RW 21 Desa Pakutandang
13.00-16.00
Ivan
Pendampingan I
16 Mei 2009
Kintari
Pendampingan II
31 Mei 2009
Riri
Pendampingan III
13 Juni 2009
Vici
Pendampingan IV
4.2 Tahapan Pelaksanaan/ Jadwal Faktual
No
Kegiatan
Bulan ke -
Desember
Maret
April
Mei
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Survey
2
Pendekatan dan propaganda
3
Perbaikan MCK dan kantor RW
3
Pembangunan saung kompos
4
Penyuluhan dan praktik penanaman padi SRI di polybag
5
Penyuluhan dan praktik pembuatan kompos dan MOL
6
Pendampingan
4.3Pelaksanaan
Pelaksanaan program ini meliputi tahap-tahap berikut :
1.Survei
Survei dilakukan dalam tiga tahap :
a.Meninjau data kependudukan
Waktu : September 2008
i.Melakukan diskusi mengenai rencana kegiatan program padi SRI kepada pihak yang bertanggung jawab melalui Kantor Kepala Desa Pakutandang.
ii.Meminta data kependudukan RW 21 Desa Pakutandang dari Kantor Kepala Desa Pakutandang
b.Observasi langsung ke RW 21, Desa Pakutandang
Waktu : Desember 2008
c.Wawancara masyarakat setempat dan instansi-instansi lain yang terkait
Waktu : Desember 2008
2.Pendekatan ke masyarakat
Wujud pendekatan ke masyarakat RW 21 Desa Pakutandang berupa :
a.Audiensi
Lokasi: Masjid RW 21
Tanggal: 13 Desember 2008
13.00-13.30 :Penjelasan umum mengenai rencana program padi SRI oleh mahasiswa kepada warga setempat.
14.00-15.00:Diskusi terbuka antara mahasiswa dan warga setempat, khususnya kelompok tani RW 21, Desa Pakutandang.
b.Perbaikan kantor RW
Kegiatan ini dilakukan mahasiswa bersama warga sejumlah 10 orang
Tanggal: 29 Maret 2009
10.00-12.00:Mengecat, memperbaiki bangunan, menambah papan tulis
12.00-13.00:Istirahat
13.00-16.00:Mengecat, memernis, memasang pintu & plang nama
c.Perbaikan fasilitas MCK
Perbaikan ini dilakukan oleh mahasiswa dan warga setempat sejumlah 10 orang
Tanggal: 29 Maret 2009
10.00-12.00:Perbaikan fasilitas MCK
12.00-13.00: Istirahat
13.00-16.00: Melanjutkan perbaikan fasilitas MCK
3.Propaganda
Waktu : Desember 2008-Februari 2009
a.Propaganda lisan melalui Bapak RT dan RW
b.Propaganda melalui para tokoh RW 21 Desa Pakutandang, beserta dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.
4.Pembangunan saung kompos
Lokasi : Depan Rumah Pak Didi
Tanggal : 17-18 April 2009
Pertama, lokasi yang tepat dicari untuk membangun saung agar mudah dijangkau. Lokasi yang akhirnya dipakai menjadi saung kompos yaitu lokasi di depan rumah Pak Didi. Kemudian mencari bahan-bahan saung berupa bambu, kawat pengikat bambu, dan terpal. Lalu merakitnya menjadi unit saung kompos.
5.Penyuluhan
Penyuluhan ini dilengkapi dengan sarana diskusi langsung antara Bapak Utju dan para petani setempat yang berjumlah sekitar 20 petani.
Lokasi : Masjid RW 21
Tanggal: 19 April 2009
13.00-13.10 : Pendahuluan
13.10-13.25 : Penjelasan cara pembuatan MOL (mikroorganisme lokal)
13.25-13.40 : Penjelasan cara pembuatan kompos
13.40-14.00: Penjelasan umum mengenai teknologi padi SRI
14.00-14.30: Diskusi
6.Praktik pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos
Kegiatan ini dipandu oleh praktisinya yaitu Bapak Utju, yang diikuti oleh sekitar 20 petani
Lokasi : Saung kompos, di depan rumah Pak Didi
Tanggal: 19 April 2009
14.30-15.30 : Praktik pembuatan MOL dan kompos di dalam saung kompos
15.30-16.00: Diskusi
7.Praktik penanaman padi di polybag
Kegiatan praktik penanaman padi di polybag diikuti oleh ibu-ibu di RW 21 Desa Pakutandang sejumlah 10 orang.
Lokasi : Dekat Rumah Bu Entin
Tanggal: 19 April 2009
14.00-14.30: Sharing menanam padi SRI di polybag dari mahasiswa
14.30-15.30: Praktik penanaman padi di polybag
15.30-16.00: Diskusi
8.Pendampingan
Mahasiswa sudah melakukan pendampingan sebanyak empat kali dengan cara menggilir beberapa mahasiswa secara berkala setiap 2 minggu sekali.
Pelaksanaan pendampingan program ini dilakukan pada tanggal 2 Mei 2009, 16 Mei 2009, 31 Mei 2009, dan 13 Juni 2009.
4.4Instrumen Pelaksanaan
Alat & Bahan
Fungsi
Cat kayu
Perbaikan kantor RW & fasilitas MCK
Kuas cat
Kayu
Semen
Pernis
Papan tulis
Plang nama
Seng
Sekop
Batu kali
Gergaji
Perbaikan kantor RW&fasilitas MCK
Pembangunan saung kompos
Bambu
Palu
Paku
Terpal
Pembangunan saung kompos
Buah-buahan
Praktik pembuatan kompos dan MOL
Air tajil
Air gula
Sampah-sampah organik (hijauan dan coklatan)
Kotoran Ternak
Golok
Cangkul
Karung
MOL EM 4
Praktik pembuatan kompos&MOL
Praktik penanaman padi SRI di polybag
Tanah
Praktik penanaman padi SRI di polybag
Kompos
Polybag
Bibit padi
4.5Rancangan dan Realisasi Biaya
4.5.1Rancangan Biaya Program
Berikut rancangan biaya pelaksanaan program :
1.Peralatan Penunjang
Peralatan penunjang
Jumlah
Biaya per satuan
Biaya Total
Toples
10
Rp 10.000,00
Rp 100.000,00
Palu
4 buah
Rp 10.000,00
Rp 40.000,00
Sewa LCD
2hari
Rp 50.000,00
Rp 100.000,00
Layar
1 buah
Rp 5.000,00
Rp 5.000,00
Gergaji
4 buah
Rp 30.000,00
Rp 120.000,00
Linggis
4 buah
Rp 40.000,00
Rp 160.000,00
Parang
4 buah
Rp 20.000,00
Rp 80.000,00
Gunting
4 buah
Rp 4.000,00
Rp 16.000,00
Alat tulis
100
Rp 1.000,00
Rp 100.000,00
TOTAL
Rp 721.000,00
2. Bahan Habis Pakai
Bahan Habis Pakai
Jumlah
Biaya per satuan
Biaya Total
Bambu
30bambu @ 3 meter
Rp 15.000,00
Rp 450.000,00
Kawat
15 gulung
Rp 10.000,00
Rp 150.000,00
Paku
3 kg
Rp 6.000,00
Rp 18.000,00
Terpal
1
Rp 90.000,00
Rp 90.000,00
Tambang
1
Rp 100.000,00
Rp 100.000,00
MOL EM4
3 botol
Rp 20.000,00
Rp 60.000,00
Kotoran domba
3 karung
Rp 10.00,00
Rp 30.000,00
Gula merah
3kg
Rp 1.500,00
Rp 4.500,00
Tomat
5 kg
Rp 2.000,00
Rp 10.000,00
Polybag
100
Rp 1.000,00
Rp 100.000,00
Kompos jadi
30
Rp 3.000,00
Rp 90.000,00
Trashbag
10
Rp 4.000,00
Rp 40.000,00
Fotokopi kertas untuk lomba mewarnai
50
Rp 100,00
Rp 5.000,00
Hadiah
50
Rp 5.000,00
Rp 250.000,00
Handout penyuluhan
100
Rp 2.000,00
Rp 200.000,00
Sertifikat
50
Rp 2.000,00
Rp 100.000,00
TOTAL
Rp 1.697.500,00
3. Lain-lain
Lain-lain
Jumlah
Biaya Total
Publikasi
Spanduk
2
Rp 400.000,00
Poster+Brosur
Rp 200.000,00
Transportasi
Survei lokasi
3 x 5orang xRp 20.000,00
Rp 300.000,00
Pendekatan
4 x 5orang xRp 20.000,00
Rp 400.000,00
Hari H
10 orangx Rp 20.000,00
Rp 200.000,00
Pendampingan
4 x 4orang x Rp 20.000,00
Rp 320.000,00
Konsumsi Penyuluhan
100 orang x Rp 5.000,00
Rp 500.000,00
TOTAL
Rp 2.320.000,00
4. Total Rancangan Biaya Program
Daftar Kebutuhan Biaya
Biaya
Bahan Habis Pakai
Rp 1.697.500,00
Peralatan penunjang
Rp 721.000,00
Lain-lain
Rp 2.320.000,00
TOTAL BIAYA
Rp 4.378.500,00
4.5.2Realisasi Biaya Program
Berikut biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan program :
·Kompos telah terbentuk dan sementara digunakan untuk ladang singkong dan padi dalam polybag. Dalam program ini, pengelolaan saung kompos dipercayakan kepada beberapa petani karena mahasiswa tidak dapat mengontrol setiap hari. Karena jumlah kompos yang terbentuk masih sedikit dan masa tanam padi belum dimulai, maka untuk sementara penggunaannya sebatas untuk ladang singkong dan padi dalam polybag.
·Sampah-sampah organik yang ada mulai berkurang dan lebih termanfaatkan lagi untuk membuat kompos. Oleh karena bahan utama kompos adalah sampah oraganik dalam kuantitas yang besar, maka sampah-sampah organik yang ada dipakai untuk pembuatan kompos ini.
·Pembuatan kompos mulai berkelanjutan dengan dibuatnya unit baru.
Saung kompos yang pertama dibangun menjadi unit percontohan sehingga masyarakat mulai mencoba sendiri ketika kompos yang berada di unit percontohan tidak dapat memenuhi kebutuhan.
5.2.Penyuluhan dan praktik tentang MOL, kompos, dan penanaman padi di polybag
·Masyarakat lebih paham tentang materi-materi di atas. Penyuluhan dan praktik oleh praktisi membuat cara berpikir masyarakat lebih baik (berlandaskan ilmu pengetahuan).
·Masyarakat lebih termotivasi untuk melaksanakan program. Praktisi yang dihadirkan dalam penyuluhan telah sukses menerapkan teknologi SRI dan ikut memotivasi masyarakat.
·Pemahaman yang didapat lebih menyeluruh dan keahlian meningkat. Dengan adanya praktik bersama mahasiswa, gambaran yang diperoleh lebih utuh.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
·Saung kompos telah berhasil dibangun dan dikelola dengan baik, namun pemakaiannya belum dapat menjangkau seluruh pihak yang membutuhkan.
·Masyarakat telah dapat membuat MOL sendiri dan mulai menggunakannya untuk pembuatan kompos dan penanaman padi SRI dalam polybag.
6.2. Saran
·Informasi tentang saung kompos perlu diperluas
·Pendampingan dari mahasiswa lebih diintensifkan
·Pendekatan dan propaganda perlu ditingkatkan sehingga masyarakat semakin banyak yang tertarik untuk mencoba
·Metode penyampaian teknologi SRI perlu dibuat berkesinambungan dan bertahap sehingga pengetahuan masyarakat terus meningkat seiring dengan waktu
·Komunikasi mahasiswa dan masyarakat setempat akan lebih baik lagi jika menggunakan bahasa Sunda